<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>cahya islam</title>
	<atom:link href="http://cahyaislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cahyaislam.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Sep 2009 07:05:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='cahyaislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/62eb4a6a26d06de615399a38a79b7361?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>cahya islam</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cahyaislam.wordpress.com/osd.xml" title="cahya islam" />
		<item>
		<title>Selamat Idul Fitri 1430H</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/09/21/selamat-idul-fitri-1430h/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/09/21/selamat-idul-fitri-1430h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2009 07:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[seiring takbir, tahmid, dan tahlil yang berkumandang
terpanjat doa dari hati yang terdalam
semoga diterima segala ibadah di bulan Ramadhan
dan dapat bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya
amiin.
Selamat Idul Fitri 1430H
Minal aidin wal fa’idzin
Mohon maaf lahir &#38; batin
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=590&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>seiring takbir, tahmid, dan tahlil yang berkumandang</p>
<p>terpanjat doa dari hati yang terdalam</p>
<p>semoga diterima segala ibadah di bulan Ramadhan</p>
<p>dan dapat bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya</p>
<p>amiin.</p>
<p>Selamat Idul Fitri 1430H</p>
<p>Minal aidin wal fa’idzin</p>
<p>Mohon maaf lahir &amp; batin</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=590&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/09/21/selamat-idul-fitri-1430h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hal-Hal yang Dianggap Membatalkan Puasa</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/25/hal-hal-yang-dianggap-membatalkan-puasa/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/25/hal-hal-yang-dianggap-membatalkan-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 06:32:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa permasalahan yang oleh sebagian umat dianggap sebagai pembatal puasa namun sesungguhnya tidak demikian. Keterangan-keterangan yang dibawakan nantinya sebagian besar diambilkan dari kitab Fatawa Ramadhan -cetakan pertama dari penerbit Adhwaa’ As-salaf- yang berisi kumpulan fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan lain-lain rahimahumullahu ajma’in.
Di antara faidah yang bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=581&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ada beberapa permasalahan yang oleh sebagian umat dianggap sebagai <a href="http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/24/hal-hal-yang-membatalkan-puasa/">pembatal puasa </a>namun sesungguhnya tidak demikian. Keterangan-keterangan yang dibawakan nantinya sebagian besar diambilkan dari kitab Fatawa Ramadhan -cetakan pertama dari penerbit Adhwaa’ As-salaf- yang berisi kumpulan fatwa para ulama seperti Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, dan lain-lain rahimahumullahu ajma’in.</p>
<p>Di antara faidah yang bisa kita ambil dari kitab tersebut adalah:<span id="more-581"></span></p>
<p><strong>&gt; </strong>Bahwa      orang yang melakukan pembatal-pembatal puasa dalam keadaan lupa, dipaksa,      dan tidak tahu dari sisi hukumnya, maka tidaklah batal puasanya. Begitu      pula orang yang tidak tahu dari sisi waktunya seperti orang yang      menjalankan sahur setelah terbit fajar dalam keadaan yakin bahwa waktu      fajar belum tiba. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin setelah      menjelaskan tentang pembatal-pembatal puasa, berkata: “Dan      pembatal-pembatal ini akan merusak puasa, namun tidak merusaknya kecuali      memenuhi tiga syarat: mengetahui hukumnya, ingat (tidak dalam keadaan      lupa) dan bermaksud melakukannya (bukan karena terpaksa).” Kemudian beliau      membawakan beberapa dalil, di antaranya hadits yang menjelaskan bahwa      Allah swt telah mengabulkan doa yang tersebut dalam firman-Nya: “Ya Allah      janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kalau kami salah (karena      tidak tahu).” (QS. l-Baqarah: 286) (Hadits yang menjelaskan hal tersebut      ada di Shahih Muslim).</p>
<p>Dan yang dimaksud oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin adalah apabila orang tersebut benar-benar tidak tahu dan bukan orang yang tidak mau tahu, wallahu a’lam. Sehingga orang yang merasa dirinya teledor atau lalai karena tidak mau bertanya, tentu yang lebih selamat baginya adalah mengganti puasanya atau ditambah dengan membayar kaffarah bagi yang terkena kewajiban tersebut.</p>
<p><strong>&gt; </strong>Orang      yang muntah bukan karena keinginannya (tidak sengaja) tidaklah batal      puasanya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam hadits: “Barang siapa yang      muntah karena tidak disengaja, maka tidak ada kewajiban bagi dia untuk      mengganti puasanya. Dan barang siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib      baginya untuk mengganti puasanya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu      Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani t di dalam      Al-Irwa’ no. 930)</p>
<p>Oleh karena itu, orang yang merasa mual ketika dia menjalankan puasa, sebaiknya tidak berusaha memuntahkan apa yang ada dalam perutnya dengan sengaja, karena hal ini akan membatalkan puasanya. Dan jangan pula dia menahan muntahnya karena inipun akan berakibat negatif bagi dirinya. Maka biarkan muntahan itu keluar dengan sendirinya karena hal tersebut tidak membatalkan puasa. (Fatawa Ramadhan, 2/481)</p>
<p><strong>&gt; </strong>Menelan      ludah tidaklah membatalkan puasa. Berkata Asy-Syaikh Ibnu Baz t: “Tidak mengapa untuk menelan ludah dan saya tidak melihat adanya      perselisihan ulama dalam hal ini, karena hal ini tidak mungkin untuk      dihindari dan akan sangat memberatkan. Adapun dahak maka wajib untuk      diludahkan apabila telah berada di rongga mulut dan tidak boleh bagi orang      yang berpuasa untuk menelannya karena hal itu memungkinkan untuk dilakukan      dan tidak sama dengan ludah.</p>
<p><strong>&gt; </strong>Keluar      darah bukan karena keinginannya seperti luka atau karena keinginannya      namun dalam jumlah yang sedikit tidaklah membatalkan puasa. Berkata      Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin dalam beberapa fatwanya:</p>
<p>a.“Keluarnya darah di gigi tidaklah mempengaruhi puasa selama menjaga agar      darahnya tidak ditelan…”.</p>
<p>b. “Pengetesan darah tidaklah mengapa bagi orang yang berpuasa yaitu pengambilan darah untuk diperiksa jenis golongan darahnya dan dilakukan karena keinginannya maka tidak apa-apa…”.</p>
<p>c. “Pengambilan darah dalam jumlah yang banyak apabila berakibat dengan akibat yang sama dengan melakukan berbekam, seperti menyebabkan lemahnya badan dan membutuhkan zat makanan, maka hukumnya sama dengan berbekam (yaitu batal puasanya)…” (Fatawa Ramadhan, 2/460-466).</p>
<p>Maka orang yang keluar darahnya akibat luka di giginya baik karena dicabut atau karena terluka giginya tidaklah batal puasanya. Namun dia tidak boleh menelan darah yang keluar itu dengan sengaja. Begitu pula orang yang dikeluarkan sedikit darahnya untuk diperiksa golongan darahnya tidaklah batal puasanya. Kecuali bila darah yang dikeluarkan dalam jumlah yang banyak sehingga membuat badannya lemah, maka hal tersebut membatalkan puasa sebagaimana orang yang berbekam (yaitu mengeluarkan darah dengan cara tertentu dalam rangka pengobatan).</p>
<p>Meskipun terjadi perbedaan pendapat yang cukup kuat dalam masalah ini, namun yang menenangkan tentunya adalah keluar dari perbedaan pendapat. Maka bagi orang yang ingin melakukan donor darah, sebaiknya dilakukan di malam hari, karena pada umumnya darah yang dikeluarkan jumlahnya besar. Kecuali dalam keadaan yang sangat dibutuhkan, maka dia boleh melakukannya di siang hari dan yang lebih hati-hati adalah agar dia mengganti puasanya di luar bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>&gt; </strong>Pengobatan yang dilakukan melalui suntik, tidaklah membatalkan puasa, karena obat suntik tidak tergolong makanan atau minuman. Berbeda halnya dengan infus, maka hal itu membatalkan puasa karena dia berfungsi sebagai zat makanan. Begitu pula pengobatan melalui tetes mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa kecuali bila dia yakin bahwa obat tersebut mengalir ke kerongkongan.</p>
<p>Terdapat perbedaan pendapat apakah mata dan telinga merupakan saluran ke kerongkongan sebagaimana mulut dan hidung, ataukah bukan. Namun wallahu a’lam yang benar adalah bahwa keduanya bukanlah saluran yang akan mengalirkan obat ke kerongkongan. Maka obat yang diteteskan melalui mata atau telinga tidaklah membatalkan puasa. Meskipun bagi yang merasakan masuknya obat ke kerongkongan tidak mengapa baginya untuk mengganti puasanya agar keluar dari perselisihan. (Fatawa Ramadhan, 2/510-511)</p>
<p><strong>&gt; </strong>Mencium dan memeluk istri tidaklah membatalkan puasa apabila tidak sampai keluar air mani meskipun mengakibatkan keluarnya madzi. Rasulullah saw bersabda dalam sebuah hadits shahih yang artinya: “Dahulu Rasulullah saw mencium (istrinya) dalam keadaan beliau berpuasa dan memeluk (istrinya) dalam keadaan beliau puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menahan syahwatnya di antara kalian.” (Lihat takhrijnya dalam kitab Al-Irwa, hadits no. 934)</p>
<p>Akan tetapi bagi orang yang khawatir akan keluarnya mani dan terjatuh pada perbuatan jima’ karena syahwatnya yang kuat, maka yang terbaik baginya adalah menghindari perbuatan tersebut. Karena puasa bukanlah sekedar meninggalkan makan atau minum, tetapi juga meninggalkan syahwatnya. Rasulullah saw bersabda: “(orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya dan makannya karena Aku.” (Shahih HR. Muslim)</p>
<p>Beliau juga bersabda: “Tinggalkan hal-hal yang meragukan kepada yang tidak meragukan.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai, dan At-Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t di Al-Irwa)</p>
<p><strong>&gt; </strong>Bagi laki-laki yang sedang berpuasa diperbolehkan untuk keluar rumah dengan memakai wewangian. Namun bila wewangian itu berasal dari suatu asap atau semisalnya, maka tidak boleh untuk menghirupnya atau menghisapnya. Juga diperbolehkan baginya untuk menggosok giginya dengan pasta gigi kalau dibutuhkan. Namun dia harus menjaga agar tidak ada yang tertelan ke dalam tenggorokan, sebagaimana diperbolehkan bagi dirinya untuk berkumur dan memasukkan air ke hidung dengan tidak terlalu kuat agar tidak ada air yang tertelan atau terhisap. Namun seandainya ada yang tertelan atau terhisap dengan tidak sengaja, maka tidak membatalkan puasa. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Bersungguh-sungguhlah dalam istinsyaq (menghirup air ketika berwudhu) kecuali jika engkau sedang berpuasa (maka tidak perlu bersungguh-sungguh).” (HR. Abu Dawud, 1/132, dan At-Tirmidzi, 3/788, An-Nasai, 1/66, dan dishahihkan oleh As-Syaikh Al-Albani t di Al-Irwa, hadits no. 935)</p>
<p><strong>&gt; </strong>Diperbolehkan bagi orang yang berpuasa untuk menyiram kepala dan badannya dengan air untuk mengurangi rasa panas atau haus. Bahkan boleh pula untuk berenang di air dengan selalu menjaga agar tidak ada air yang tertelan ke tenggorokan.</p>
<p><strong>&gt; </strong>Mencicipi masakan tidaklah membatalkan puasa, dengan menjaga jangan sampai ada yang masuk ke kerongkongan. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas ra dalam sebuah atsar: “Tidak apa-apa bagi seseorang untuk mencicipi cuka dan lainnya yang dia akan membelinya.” (Atsar ini dihasankan As-Syaikh Al-Albani t di Al-Irwa no. 937)</p>
<p>Demikian beberapa hal yang bisa kami ringkaskan dari penjelasan para ulama. Yang paling penting bagi setiap muslim, adalah meyakini bahwa Rasulullah saw tentu telah menjelaskan seluruh hukum-hukum yang ada dalam syariat Islam ini. Maka, kita tidak boleh menentukan sesuatu itu membatalkan puasa atau tidak dengan perasaan semata. Bahkan harus mengembalikannya kepada dalil dari Al Qur`an dan As Sunnah dan penjelasan para ulama.</p>
<p>Mengenai hal-hal yang bisa membatalkan puasa: <a href="http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/24/hal-hal-yang-membatalkan-puasa/">http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/24/hal-hal-yang-membatalkan-puasa/</a></p>
<p>Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
<p>Sumber:asysyariah.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/581/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=581&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/25/hal-hal-yang-dianggap-membatalkan-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hal-hal yang Membatalkan Puasa</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/24/hal-hal-yang-membatalkan-puasa/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/24/hal-hal-yang-membatalkan-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 06:56:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=579</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini adalah hal-hal yang membatalkan puasa:
1. Makan,      minum atau menghisap sesuatu dengan sengaja, baik yang bermanfaat atau      yang berbahaya seperti rokok. JIka tidak sengaja karena lupa maka tidak      batal, asalkan begitu teringat sedang berpuasa harus menghentikan    [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=579&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Berikut ini adalah hal-hal yang membatalkan puasa:</strong></p>
<p><strong>1. Makan,      minum atau menghisap sesuatu dengan sengaja</strong>, baik yang bermanfaat atau      yang berbahaya seperti rokok. JIka tidak sengaja karena lupa maka tidak      batal, asalkan begitu teringat sedang berpuasa harus menghentikan      makannya. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa lupa bahwa ia puasa,      kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah disempurnakan puasanya;      sesungguhnya Allah yang mmeberi makan dan minum.” (HR. Bukhari dan      Muslim).</p>
<p><strong>2. Melakukan      jima’ (hubungan intim suami istri) pada siang hari di bulan Ramadhan</strong> padahal ia sedang berpuasa. Bagi yang melanggarnya, wajib membayar kifarat      (denda) sesuai dengan kemampuannya. Boleh memilih salah satu dari tiga      macam denda: memerdekan seoran budak; mengerjakan puasa selama dua bulan      berturut-turut; atau memberi makan 60 orang fakir miskin dengan ¾ liter      per orang. <span id="more-579"></span></p>
<p><strong>3. Mengeluarkan      air mani dengan cara onani atau masturbasi, mencium, memeluk, merangkul, menghayal      dan lain-lainnya, serta memandang segala sesuatu yang dapat menggugah      nafsu syahwat.</strong> Sabda Rasulullah saw: “Sekilas pandangan mata kadang-kadang      merupakan sebuah anak panah yang berbisa di antara panah-panah iblis yang      terkutuk. Maka barangsiapa menahan diri daripada pandangan seperti itu,      karena rasa takutnya kepada Allah, maka Allah swt akan melimpahkan      kepadanya manisnya iman dalam hatinya.” (HR. Al Hakim).</p>
<p><strong>4. Keluar      darah haidh dan nifas</strong>, maka wajib mengganti puasanya pada hari yang lain.      Dari Aisyah ra: “Kami disuruh oleh Rasulullah saw mengganti puasa, dan      tidak disuruhya mengganti sholat.” (HR. Bukhari)</p>
<p><strong>5. Mengeluarkan      darah dengan jalan hijamah (membekam) atau yang serupa.</strong> Sedang keluar      darah dengan sendirinya atau karena mencabut gigi dan yang semisalnya,      tidak membatalkan puasa, karena hal tersebut tidak termasuk dalam pengertian      hijamah.</p>
<p><strong>6. Muntah      disengaja, tetapi jika muntah tanpa disengaja </strong>atau dibuat-buat, maka tidak      batal puasanya. Sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa terpaksa muntah,      tidaklah wajib mengganti puasanya, dan barangsiapa yang mengusahakan      muntah, maka hendaklah ia mengganti puasanya (pada hari yang lain).” (HR.      Abu Daud, Tirmidzi).</p>
<p><strong>Sedangkan berikut ini adalah hal-hal yang tidak membatalkan puasa namun bila dilakukan akan menghapus pahala puasa. </strong></p>
<p><strong>1. Mengucapkan      kata-kata yang sia-sia atau tercela.</strong> Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya      puasa adalah tabir penghalang (dari perbuatan dosa). Apabila seseorang di      antara kamu sedang berpuasa, janganlah ia mengucapkan sesuatu yang keji      dan berbuat jahil. Andai ada orang lain yang mengajak berkelahi atau      menunjukkan cercaan kepadanya, hendaknya ia berkata: ‘aku sedang berpuasa,      aku sedang berpuasa’. (HR. Bukhari danMuslim)</p>
<p><strong>2. Mendengarkan      segala sesuatu yang dibenci agama</strong>, sebab segala sesuatu yang dilarang      mengucapkan berarti dilarang pula mendengarkan. Sanda Rasulullah saw: “Orang      yang menggungjing, dan mendengarkan gunjingan, sama dosanya.” (HR.      Thabrani).</p>
<p><strong>3. Melakukan      perbuatan tercela</strong> seperti pergi ke tempat maksiat, atau perbuatan haram      seperti berjudi.)</p>
<p>Ada sejumlah persoalan yang sering menjadi perselisihan di antara kaum muslimin seputar pembatal-pembatal puasa. Di antaranya memang ada yang menjadi permasalahan yang diperselisihkan di antara para ulama, namun ada pula hanya sekedar anggapan yang berlebih-lebihan dan tidak dibangun di atas dalil. Masalah ini insya Allah akan ditulis dalam pembahasan selanjutnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/579/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/579/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/579/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=579&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/24/hal-hal-yang-membatalkan-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat Tarawih</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/23/sholat-tarawih/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/23/sholat-tarawih/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 07:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sholat]]></category>
		<category><![CDATA[sholat tarawih]]></category>
		<category><![CDATA[tarawih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadhan dapat kita jadikan moment untuk berlomba-lomba mendapatkan pahala dari Allah swt. Selain puasa yang diwajibkan, yaitu memperbanyak ibadah-ibadah sunnah seperti sholat malam. Salah satunya adalah sholat tarawih yang dilakukan selama bulan Ramadhan.
Sholat tarawih dilakukan sesudah sholat isya. Dilakukan di masjid secara berjamaah atau dapat pula dikerjakan sendiri di rumah, meski di masjid lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=576&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bulan Ramadhan dapat kita jadikan moment untuk berlomba-lomba mendapatkan pahala dari Allah swt. Selain puasa yang diwajibkan, yaitu memperbanyak ibadah-ibadah sunnah seperti sholat malam. Salah satunya adalah sholat tarawih yang dilakukan selama bulan Ramadhan.</p>
<p>Sholat tarawih dilakukan sesudah sholat isya. Dilakukan di masjid secara berjamaah atau dapat pula dikerjakan sendiri di rumah, meski di masjid lebih baik tentunya. Mengenai jumlah rakaat, ada yang mengerjakan sebanyak 8 rakaat, ada yang mengerjakan hingga 20 rakaat, dan ditutup dengan sholat witir 3 rakaat. Masing-masing dapat dikerjakan dengan formasi salam tiap dua rakaat dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat rakaat dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga rakaat.<span id="more-576"></span></p>
<p>Tarawih dalam bahasa Arab berarti “santai” atau “istirahat”. Hal ini merujuk pada sebuah ibadah malam (qiyamullail) yang hanya dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan ba’da sholat Isya. Orang-orang zaman dahulu (shalafusshalih), melaksanakan shalat tarawih dengan santai, dimana setiap selesai salam, mereka melakukan kegiatan-kegiatan lain seperti dzikir atau membaca Al Quran. Maka tidaklah mengherankan jika shalat tarawih yang mereka lakukan sangatlah lama, bahkan bisa berlangsung sampai tengah malam.</p>
<p>Rasulullah Saw melaksanakan sholat tarawih selama 3 malam di masjid, setelah itu lebih banyak melakukannya di rumah seorang diri karena takut dianggap wajib oleh pengikutnya. Sepeninggal Rasulullah Saw, banyak orang yang sholat tarawih sendiri-sendiri atau berkelompok-kelompok. Atas inisiatif Khalifah Umar bin Khattab, sholat tarawih dilakukan secara berjamaah dengan satu imam di masjid agar terlihat lebih nampak ukhuwah islamiyah-nya.</p>
<p>Berikut ini pahala keutamaan sholat tarawih tiap malam di bulan Ramadhan.</p>
<ol>
<li>Malam ke-1 : Diampuni dosanya,      bersih seperti bayi lahir dari kandungan ibunya</li>
<li>Malam ke-2 : Diampuni dosanya      dan dosa kedua orang tuanya yang mu’min</li>
<li>Malam ke-3 : Malaikat memanggil      dari bawah ‘Arsy, berseru, “Segeralah kamu beramal, Allah mengampuni      dosa-dosamu yang telah lalu”</li>
<li>Malam ke-4 : Diberi pahala      sebanyak pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al Quran</li>
<li>Malam ke-5 : Diberi pahala      sebanyak pahala shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha</li>
<li>Malam ke-6 : Diberi pahala      sebanyak pahala thawaf di Baitul Makmur (tempat thawafnya malaikat),      setiap batu-batuan dan tanah liat beristighfar untuknya</li>
<li>Malam ke-7 : Seolah-olah      bertemu dengan Nabi Musa as dan berjuang bersama melawan Fir’aun dan Haman</li>
<li>Malam ke-8 : Diberi segala      sesuatu sesuatu seperti apa yang pernah diberikan kepada Nabi Ibrahim AS</li>
<li>Malam ke-9 : Seolah-olah ia      beribadah seperti ibadah yang dikerjakan Nabi Muhammad Saw</li>
<li>Malam ke-10 : Allah memberi      kebaikan dunia dan akhirat</li>
<li>Malam ke-11 : Ia akan meninggal      dunia dalam keadaan bersih dari dosa seperti bayi baru dilahirkan oleh      ibunya</li>
<li>Malam ke-12 : Wajahnya akan      bercahaya seperti bulan purnama di hari kiamat nanti</li>
<li>Malam ke-13 : Kelak di hari      kiamat ia akan aman dari segala kejahatan</li>
<li>Malam ke-14 : Dibebaskan dari      hisab dan para malaikat memberikan kesaksian atas ibadah tarawihnya</li>
<li>Malam ke-15 : Bershalawatlah      kepadanya segenap malaikat, penanggung ‘ Arsy dan Kursi Allah</li>
<li>Malam ke-16 : Dibebaskan dari      siksa api neraka dan dibebaskan masuk ke surga</li>
<li>Malam ke-17 : Diberi pahala      seperti yang diterima para Nabi</li>
<li>Malam ke-18 : Malaikat      memanggilnya; “Wahai Hamba Allah, engkau dan kedua orang tuamu telah      diridloi Allah Swt”</li>
<li>Malam ke-19 : Derajatnya      ditinggikan di surga Firdaus</li>
<li>Malam ke-20 : Diberi pahala      seperti pahalanya syuhada dan shalihin (orang-orang shalih)</li>
<li>Malam ke-21 : Dibuatkan gedung      dari cahaya (nur) di surga</li>
<li>Malam ke-22 : Kelak di hari      kiamat akan aman dari bencana yang menyedihkan dan menggelisahkan</li>
<li>Malam ke-23 : Dibangunkan      sebuah kota di dalam surga</li>
<li>Malam ke-24 : Sebanyak 24 doa      yang ia panjatkan akan dikabulkan Allah Swt.</li>
<li>Malam ke-25 : Dibebaskan dari      siksa kubur</li>
<li>Malam ke-26 : Pahala baginya      ditingkatkan selama 40 tahun</li>
<li>Malam ke-27 : Melintasi      Shirathal Mustaqiem seperti kilat menyambar</li>
<li>Malam ke-28 : Ditinggikan      derajatnya sampai 1000 tingkat di surga kelak</li>
<li>Malam ke-29 : Diberi pahala      sebanyak pahala 1000 haji mabrur</li>
<li>Malam ke-30 : Akan diseru Allah      Swt dalam Firman-Nya: “Wahai hamba-Ku, silakan makan buah-buahan surga,      mandi dari mata air salsabil, dan minumlah dari Telaga Kautsar. Akulah      Tuhanmu dan kamu adalah hamba-Ku”</li>
</ol>
<p>Fadhilah-fadhilah (keutamaan) di atas merupakan sabda Rasulullah saw ketika ditanya Shahabat Ali bin Abi Thalib tentang fadhilah sholat tarawih yang termaktub dalam kitab Duratun Nashihin sebagai bentuk Fadhoilul A’mal.</p>
<p>Wallahu a’lam bish-shawwab.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/576/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=576&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/23/sholat-tarawih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Puasa Ramadhan</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/22/nikmatnya-puasa-ramadhan/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/22/nikmatnya-puasa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2009 14:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[al quran]]></category>
		<category><![CDATA[amal]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=573</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah kita telah melewati hari pertama puasa. Semoga puasa serta ibadah Ramadhan kita berjalan lancar sampai sebulan. Namun tidak hanya sebulan saja kita berlomba-lomba memperbanyak pahala, hendaknya bulan Ramadhan kita jadikan moment untuk meningkatkan kualitas diri dan keimanan kita kepada Allah swt. Sehingga kita bisa terus beribadah, tidak meninggalkan yang wajib serta memperbanyak yang sunnah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=573&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Alhamdulillah kita telah melewati hari pertama puasa. Semoga puasa serta ibadah Ramadhan kita berjalan lancar sampai sebulan. Namun tidak hanya sebulan saja kita berlomba-lomba memperbanyak pahala, hendaknya bulan Ramadhan kita jadikan moment untuk meningkatkan kualitas diri dan keimanan kita kepada Allah swt. Sehingga kita bisa terus beribadah, tidak meninggalkan yang wajib serta memperbanyak yang sunnah hingga seterusnya.</p>
<p>Di bulan Ramadhan kita diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Dari waktu imsak hingga berbuka saat maghrib. Tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tapi juga segala hal yang dapat membatalkan puasa. Perintah puasa difirmankan oleh Allah swt pada Al Quran surat Al Baqarah ayat 183. Dan puasa Ramadhan ini merupakan salah satu Rukun Islam.<span id="more-573"></span></p>
<p>Ketika berpuasa selama satu bulan, kita bisa ikut merasakan bagaimana orang/fakir miskin yang sedang kelaparan, karena biasanya kita selalu terpenuhi kebutuhan akan makanan. Maka jika kita bisa merasakan hal tersebut, kita akan menjadi orang yang concern terhadap orang yang sedang kesusahan khususnya fakir miskin.  Dengan begitu, kita akan terbiasa menolong  mereka dengan memberikan sedekah. Kita tak akan lagi berlebih-lebihan dan selalu ingat akan kesulitan mereka. Berbagi kepada sesama serta tidak lupa selalu mensyukuri hidup ini.</p>
<p>Dengan berpuasa, kita juga diajarkan untuk menjadi sabar. Sabar di kala lapar, haus, menahan marah bahkan syahwat. Jika kita berhasil menahan itu semua maka kemenanganlah yang kita dapatkan. Karena menahan dan mengendalikan nafsu adalah hal yang paling sulit bagi manusia. Begitupula jika kita sedang berpuasa, sering kita menghadapi orang yang menguji kesabaran kita, padahal kita sedang berpuasa dan harus menahan nafsu kita. Rasulullah saw bersabda: “ Puasa adalah benteng penghalang, maka janganlah ia berucap dengam kalimat buruk, mencaci, dan menghina, jika ada yang mengganggunya atau mengumpatnya katakanlah aku puasa, aku puasa. Demi Allah yang diriku dalam genggaman-Nya, sunnguh aroma tidak sedap di mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada wangi misik, karena ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku (Allah SWT). Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang membalasnya, dan setiap pahala dibalas 10 kali lipat darinya”. (HR. Bukhari) <strong> </strong></p>
<p>Maka kuncinya adalah sabar. Betapa sabar itu adalah kunci sukses dalam segala hal, subhanallah… Di bulan Ramadhan inilah kita bisa mengintropeksi dan memperbaiki diri. Dan tentunya agar kita menjadi orang yang betakwa, seperti firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah:183)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/573/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/573/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/573/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=573&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/22/nikmatnya-puasa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Marhaban Yaa Ramadhan</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/21/marhaban-yaa-ramadhan/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/21/marhaban-yaa-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 08:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.&#8221; (QS. Al Baqarah:183)
Alhamdulillah kita masih bisa bertemu bulan Ramadhan tahun ini. Dengan hati yang bersih, marilah kita menyambut bulan yang suci ini dengan gembira. Ramadhan, bulan seribu bulan. Semoga amal ibadah kita dan puasa di bulan Ramadhan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=562&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;">
<p style="text-align:center;">&#8220;Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.&#8221; (QS. Al Baqarah:183)</p>
<p>Alhamdulillah kita masih bisa bertemu bulan Ramadhan tahun ini. Dengan hati yang bersih, marilah kita menyambut bulan yang suci ini dengan gembira. Ramadhan, bulan seribu bulan. Semoga amal ibadah kita dan puasa di bulan Ramadhan ini dapat berjalan dengan lancar dan diterima oleh Allah swt. Kepada saudara-saudaraku semua, izinkan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya menjelang bulan Ramadhan. Marilah kita perbanyak amal ibadah di bulan yang penuh ampunan, rahmat, dan berkah ini.</p>
<p><strong>* KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN </strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu: Rasulullah saw bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya, pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat, juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)<span id="more-562"></span></p>
<p>Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR. Ath Thabrani)</p>
<p>Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu : bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga), Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.” (HR. Ahmad)”</p>
<p><strong>SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1430 H.</strong></p>
<p>Semoga ibadah Ramadhan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, amiiin.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/562/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/562/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/562/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=562&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/21/marhaban-yaa-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Tangga Sakinah Bagi Seorang Wanita</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/14/rumah-tangga-sakinah-bagi-seorang-wanita/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/14/rumah-tangga-sakinah-bagi-seorang-wanita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2009 03:57:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[muslimah]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=559</guid>
		<description><![CDATA[Bagi seorang wanita mukminah, pernikahan adalah salah satu perwujudan Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan sarana untuk mencapai keridhaan-Nya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:  “Nikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku maka bukanlah termasuk golonganku. Menikahlah, karena aku akan bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat lain di hari kiamat. Barangsiapa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=559&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bagi seorang wanita mukminah, pernikahan adalah salah satu perwujudan Sunnah Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> dan sarana untuk mencapai keridhaan-Nya. Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda: <em> “Nikah adalah sunnahku. Barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku maka bukanlah termasuk golonganku. Menikahlah, karena aku akan bangga dengan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat lain di hari kiamat. Barangsiapa yang telah memiliki modal, hendaklah ia menikah. Dan barangsiapa yang tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu penekan hawa nafsunya”</em> (HR. Ibnu Majah).</p>
<p>Jika seseorang meniatkan di awal pernikahannya sebagai satu niat untuk beribadah kepada-Nya, meninggalkan zina, dan mendekatkan diri kepada-Nya; maka dia akan memperoleh pahala sesuai dengan apa yang ia niatkan itu. Sebaliknya, jika ia mempunyai niat di awal pernikahannya hanya sekedar untuk mencari harta, pangkat, kedudukan, atau popularitas; maka ia akan mendapat balasan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Bahkan dosa jika yang ia niatkan tersebut merupakan maksiat. Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: <em> “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat dan seseorang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang niatkan”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)<span id="more-559"></span></p>
<p><strong>Tanggung Jawab Istri pada Diri Sendiri </strong></p>
<p>Diantara tanggung jawab istri kepada diri sendiri diantaranya adalah :<strong></strong></p>
<p><strong>1. Menuntut ilmu syar’i</strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: <em>“Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim”</em> (HR. Ibnu Majah)</p>
<p>Yaitu :</p>
<p>- Ilmu tentang prinsip-prinsip ‘aqidah dan keimanan (Rukun Iman)</p>
<p>- Ilmu tentang apa-apa yang diwajibkan dalam rukun Islam, seperti syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji.</p>
<p>- Ilmu-ilmu penunjang yang bermanfaat lainnya.</p>
<p>Seorang ibu rumah tangga wajib mengetahui tentang pembatal-pembatal syahadat, wajib mengetahui bagaimana cara thaharah dan sholat yang benar, dan yang lain sebagainya. Tidak boleh terjadi pada seorang ibu bahwa ia tidak mengetahui tentang hukum-hukum haidh, padahal haidh adalah sesuatu yang rutin mendatanginya.</p>
<p>Bagaimana seorang ibu rumah tanga bisa menuntut ilmu di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga ? Hal yang pertama bahwa ia harus menumbuhkan perasaan butuh dan cinta kepada ilmu. Jika seseorang telah mampu menumbuhkan perasaan itu pada dirinya, maka ia akan memanfaatkan semua kesempatan dimana ia bisa memperoleh ilmu, baik dalam majelis-majelis ilmu atau membaca buku-buku. Dalam seminggu, usahakanlah untuk dapat bermajelis ilmu minimal satu kali. Bisa ia menghadiri majelis-majelis ilmu secara khusus, atau bermajelis dengan suaminya untuk saling membacakan satu pembahasan dalam buku agama. Selain itu, ia bisa memanfaatkan beberapa waktu luang dengan membaca buku agama saat kesibukan belum menderanya, misalnya 15 – 20 menit sebelum sholat shubuh;atau 15 – 20 menit setelah ‘isya’ di saat anak-anak telah tidur di pembaringannya.</p>
<p><strong>2. Mengamalkan ilmu yang telah diperoleh. </strong></p>
<p>Adalah menjadi hal yang mutlak lagi wajib untuk mengamalkan ilmu. Amal adalah buah ilmu. Barangsiapa yang berilmu namun tidak beramal, ia laksana tumbuhan yang tidak memberikan manfaat bagi makhluk hidup di sekitarnya. Ilmu bisa menjadi pembela atau malah jadi bencana bagi diri kita sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> :</p>
<p><em> “Al-Qur’an itu bisa menjadi pembela bagimu atau menjadi bencana bagimu”</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Contoh mudah yang bisa kita lakukan adalah ketika kita tahu bagaiamana cara wudhu yang benar dari penjelasan Ustadz atau hasil membaca buku; maka dengan tidak menunda-nunda kita praktekkan pada diri kita jikalau mau melaksanakan sholat. Jika kita tahu tentang bahaya syirik, maka dengan segera kita bersihkan diri dan rumah tangga kita dari hal-hal yang berbau syirik seperti membuang segala macam jimat, rajah, gambar makhluk hidup, atau benda pusaka keramat peninggalan leluhur (yang tentunya harus dikomunikasikan secara bijaksana dengan suami). Dan yang lain sebagainya.</p>
<p><strong>Tanggung Jawab Istri pada Suami</strong></p>
<p>Tanggung jawab istri kepada suami terkait erat dengan pemenuhan hak-hak suami oleh istri. Harus menjadi satu pemahaman bahwa seorang laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Seorang suami adalah pemimpin bagi istri dan anak-anaknya di rumahnya. Allah swt berfirman : &#8220;<em>Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)&#8221;</em> (QS. An-Nisaa’ : 34).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> telah menggambarkan keagungan hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya dengan sabdanya : <em>&#8220;Gambaran hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya adalah seandainya pada kulit suaminya itu ada borok (luka), lalu dia (istri) menjilatinya, maka dia belum benar-benar memenuhi hak suaminya&#8221;</em> (HR. Ibnu Abi Syaibah 4/2/303 no. 17407; hasan ).</p>
<p><em>&#8220;Seandainya aku boleh menyuruh seorang manusia untuk bersujud kepada manusia lainnya, niscaya akan aku suruh seorang wanita untuk bersujud kepada suaminya&#8221;</em> (HR. At-Tirmidzi).</p>
<p>Ketaatan istri kepada suaminya merupakan salah satu faktor yang akan membawanya masuk surga. Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda : <em>&#8220;Jika seorang wanita mengerjakan sholat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya : ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai&#8221;</em> (HR. Ibnu Hibban , shahih).</p>
<p>Beberapa kewajiban istri yang harus dipenuhi kepada suaminya antara lain adalah :</p>
<p><strong>1. Patuh kepada perintah suami </strong></p>
<p>Hushain bin Mihshan mengkisahkan : Bahwasannya bibinya pernah mendatangi Nabi <em>shallallaahu ‘alaihi wasalam</em> untuk satu keperluan. Setelah menyelesaikan keperluannya, maka Nabi berkata kepadanya : ‘Apakah engkau bersuami ?’. Aku menjawab : ‘Ya’. Beliau melanjutkan : ‘Bagaimana sikapmu terhadapnya ?’. Aku menjawab : ‘Aku tidak pernah membantahnya/menolaknya kecuali pada perkara yang tidak sanggup aku lakukan’. Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda : <em>&#8220;Maka perhatikanlah sikapmu terhadapnya, karena sesungguhnya dia (suamimu) adalah surga dan nerakamu&#8221;</em> (HR. Ahmad).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> pernah ditanya tentang model wanita yang paling baik, maka beliau menjawab : <em> “Dia dalah seorang wanita yang patuh saat suaminya menyuruhnya, menarik saat suaminya memandangnya, menjaga kemuliaan suami dengan memelihara kehormatannya sendiri, dan mengurus harta suami”</em> (HR. An-Nasa’i ,shahih).</p>
<p>Catatan : Taat ini dengan syarat : Hanya dalam hal yang ma’ruf bukan dalam kemaksiatan.</p>
<p><em> “Tidak ada ketaatan dalam perbuatan maksiat kepada Allah. Ketaatan hanya boleh dilakukan dalam kebaikan”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Maka, seorang istri tidak boleh taat kepada suaminya jika ia menyuruh untuk membuka jilbab, menemani seorang laki-laki yang bukan mahram tanpa ada suaminya, berbohong, dan lain-lain. Namun bukan pula berarti ia membatalkan ketaatannya secara keseluruhan. Ia tetap wajib taat pada hal-hal yang mubah dan yang disyari’atkan.</p>
<p><strong>2. Tetap tinggal di rumah dan tidak keluar rumah kecuali      setelah mendapat ijin dari suami. </strong></p>
<p>Allah berfirman : <em> “Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu”</em> (QS. Al-Ahzab : 33).</p>
<p>Tinggal di dalam rumah adalah hukum asal bagi seorang wanita. Ia tidak boleh keluar melainkan dengan sebab dan syarat. Sebabnya adalah karena hajat, dan syaratnya adalah ijin dari suami, berpakaian syar’i, tidak memakai wangi-wangian, dan yang lainnya (yang akan dijelaskan kemudian).</p>
<p>Untuk hal-hal yang sifatnya rutinitas dimana ia telah mendapatkan ijin dari suami secara umum, maka ia boleh keluar tanpa seijin suaminya (walau meminta ijin tetap lebih baik). Misalnya : keluar rumah untuk belanja di warung, menyapu halaman, dan lainnya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> telah menjelaskan salah satu sebab mengapa wanita tinggal di dalam rumah : <em>“Wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar rumah, maka akan dibanggakan oleh syaithan”</em> (HR. At-Tirmidzi).</p>
<p>Hingga dalam permasalahan ibadah (sholat di masjid), rumah tetap lebih baik bagi seorang wanita, sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasall</em>am:<em> “Janganlah kalian melarang kaum wanita pergi ke masjid; akan tetapi sholat di rumah adalah lebih baik bagi mereka”</em> (HR. Abu Dawud)</p>
<p><strong>3. Menerima ajakan suami. </strong></p>
<p>Ini hukumnya wajib. Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: <em>“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun istrinya tersebut menolak (tanpa udzur yang dibenarkan syari’at) maka para malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh tiba”</em> (HR. Al-Bukhari dan Muslim)</p>
<p><strong>4. Tidak memasukkan seseorang ke dalam rumah kecuali      dengan seijin suami. </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<p><em> “Sesungguhnya kalian (para suami) memiliki hak yang harus dipenuhi mereka (para istri), agar mereka tidak mengijinkan seorangpun masuk ke pembaringanmu seseorang yang tidak kamu sukai”</em> (HR. Muslim).</p>
<p><em> “Dan janganlah seorang wanita mengijinkan seseorang masuk ke dalam rumah suaminya sementara dia (suami) ada di sana, kecuali dengan ijin suaminya tersebut”</em> (HR. Muslim).</p>
<p>Larangan ini berlaku untuk orang-orang yang memang suaminya tidak meridhainya. Namun bila orang tersebut termasuk orang-orang yang diridhai – semisal kaum kerabat -, maka ia diperbolehkan menerimanya masuk ke rumahnya dengan tetap menjaga kehormatan dirinya. Jika orang/tamu tersebut laki-laki bukan termasuk mahram (semisal : teman kerja suami atau tetangga), maka ia diperbolehkan untuk menerima dengan catatan aman dari fitnah dan menghindari khalwat (berdua-duaan). Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda : <em> “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya”</em> (HR. Al-Bukhari  dan Muslim).</p>
<p><strong>5. Tidak bersedekah dengan harta suami kecuali mendapat      ijin darinya </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda : <em> “Janganlah seorang wanita menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya kecuali seijin suaminya tersebut”</em> (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)</p>
<p><strong>6. Berterima kasih kepada suami dan tidak mengingkari      kebaikannya, serta memperlakukan suami dengan baik. </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda: <em> “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak berterima kasih kepada suaminya, padahal ia tidak mungkin lepas dari ketergantungan padanya”</em> (HR. Nasa’i)</p>
<p>Berterima kasih ini tidak hanya sebatas lisan, tapi terwujud pada penampakan rasa bahagia dan nyaman selama mendampingi suami dan melayani kebutuhannya dan kebutuhan anak-anaknya, tidak mengabaikannya, tidak mengeluh dengan segala kondisi yang dialami bersamanya, dan yang lainnya.</p>
<p><strong>7. Tidak mengungkit-ungkit kebaikannya kepada suami, jika      kebetulan dia menafkahi suami dan anak-anaknya. </strong></p>
<p>Adakalanya seorang suami diberi cobaan berupa sakit, cacat, atau yang semisalnya sehingga ia tidak bisa memberi nafkah sebagaimana mestinya; yang dengan itu istri menjadi tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah. Haram hukumnya mengungkit-ungkit kebaikannya itu. Allah telah berfirman: <em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)”</em> (QS. Al-Baqarah : 264).</p>
<p><strong>8. Selalu menjaga keutuhan rumah tangga dan tidak menuntut      cerai tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at. </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda : <em>“Wanita mana saja yang menuntut cerai kepada suaminya tanpa ada masalah yang berarti (menurut kacamata syari’at), maka diharamkan baginya wangi bau surga”</em> (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah , Ahmad).</p>
<p>Dan ingatlah wahai para wanita bahwa engkau telah Allah jadikan salah satu perhiasan dunia. Dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda : <em> “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah”</em> (HR. Muslim).</p>
<p><strong>Tanggung Jawab Istri pada Anak </strong></p>
<p><strong>1. Menyusui anak hingga usia dua tahun. </strong></p>
<p>Allah swt berfirman: <em>“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”</em> (QS. Al-Baqarah : 233).</p>
<p><strong>2. Mengasuh, memperhatikan, dan memelihara anak dengan      nafkah yang diberikan oleh suami. </strong></p>
<p>Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em> pernah memerintahkan kepada Hindun <em>radliyallaahu ‘anhaa</em>: <em>“Ambillah dengan baik (dari harta suamimu) sebatas mencukupi keperluanmu dan anakmu”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>3. Mendidik anak dengan pendidikan yang baik dan Islami. </strong></p>
<p>Hal utama yang harus diberikan dan diperhatikan adalah pendidikan agama, sebab pendidikan ini merupakan dasar yang akan membentuk tingkah laku anak di kemudian hari. Penanaman aqidah tauhid yang kuat adalah mutlak diberikan. Anak harus tahu kewajiban dan tugas mengapa ia dilahirkan di muka bumi, yaitu untuk beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Juga dengan penanaman prinsip-prinsip keimanan dalam rukun iman. Kemudian diikuti dengan penanaman kewajiban yang termasuk dalam rukun Islam yang lain seperti sholat, zakat, puasa, dan haji. Dari konsep pembangunan anak yang beriman dan beramal shalih, tentu saja harapan kita kelak ia menjadi sesuatu yang berharga yang dapat bermanfaat bagi kita di akhirat. Dan itulah yang diisyaratkan oleh Rasulullah <em>shallallaahu ‘alaihi wasallam</em>:<em>“Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu : shadaqah jariyyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya”</em> (HR. Muslim).  Wallahu a’lam</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/559/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/559/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/559/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=559&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/14/rumah-tangga-sakinah-bagi-seorang-wanita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perintah Islam Untuk Menundukkan Pandangan dari yang Haram</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/12/perintah-islam-untuk-menundukkan-pandangan-dari-yang-haram/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/12/perintah-islam-untuk-menundukkan-pandangan-dari-yang-haram/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 03:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[dalil]]></category>
		<category><![CDATA[al quran]]></category>
		<category><![CDATA[hadits]]></category>
		<category><![CDATA[halal]]></category>
		<category><![CDATA[haram]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=556</guid>
		<description><![CDATA[Dalil dari Al Quran
Allah berfirman : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8221;. Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” (QS. An-Nuur : 30-31).
Ibnu Katsir berkata : “Ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=556&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong><span style="text-decoration:underline;">Dalil dari Al Quran</span></strong></p>
<p>Allah berfirman : “<em>Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat&#8221;. Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”</em> (QS. An-Nuur : 30-31).<span id="more-556"></span></p>
<p>Ibnu Katsir berkata : “Ini adalah perintah dari Allah ’azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya mukminin untuk menundukkan pandangan-pandangan mereka dari perkara-perkara yang diharamkan bagi mereka. Mereka tidak memandang kecuali pada apa yang diperbolehkan bagi mereka dan untuk menundukkan pandangan dari yang diharamkan, apabila kebetulan memandang kepada yang haram tanpa disengaja maka langsung memalingkan pandangannya secepat mungkin”</p>
<p>Al-’Allamah Ibnul-Qayyim berkata :”Allah memerintahkan Nabi-Nya shallallaahu ’alaihi wasallam agar memerintahkan kaum mukminin untuk menundukkan pandangan mereka, menjaga kemaluan mereka, dan memberitahukan kepada mereka bahwa Allah menyaksikan amal-amal mereka. Allah swt berfirman : <em>”Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”</em> (QS. Ghaafir : 19).</p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;">Dalil Dari Hadits</span></strong></p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu ia berkata :</p>
<p><em>”Aku bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dari pandangan tiba-tiba (tidak sengaja). Mak beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.” </em>(HR. Muslim)</p>
<p>Dari Buraidah radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
<p><em> “Wahai ‘Ali, janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan. Sesungguhnya bagimu hanyalah pandangan yang pertama, dan bukan yang setelahnya”</em>.(HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)</p>
<p>Dari Abu Hurairah radliyallaahu ’anhu, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda :</p>
<p><em>”Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya”.</em>(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Dari ’Ali bin Abi Thalib radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Bahwasannya Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam membonceng Al-Fadhl bin ’Abbas di belakang beliau ketika haji, kemudian datang seorang wanita dari Khats’am yang meminta fatwa kepada Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Maka Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam memalingkan kepala Al-Fadhl agar tidak melihat kepada wanita tersebut. Maka paman beliau – Al-’Abbas – berkata kepada beliau : ”Engkau memalingkan kepala anak paman engkau, wahai Rasululah ?”. Maka beliau menjawab : <em>”Aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka aku tidak merasa aman dari syaithan terhadap mereka berdua.”</em> (HR. Ahmad dan Tirmidzi)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/556/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/556/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/556/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=556&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/12/perintah-islam-untuk-menundukkan-pandangan-dari-yang-haram/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mempersiapkan Diri Menyambut Ramadhan</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/11/mempersiapkan-diri-menyambut-ramadhan/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/11/mempersiapkan-diri-menyambut-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 03:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Bulan suci Ramadhan tinggal beberapa minggu lagi. Namun, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menyambut bulan mulia tersebut? Karena lancar dan suksesnya ibadah kita di bulan Ramadhan tergantung seberapa jauh kita mempersiapkan diri. Baik persiapan fisik, pikiran maupun mental, jika dipersiapkan dengan baik insya Allah kita akan melalui Ramadhan yang berkualitas.
Ramadhan adalah bulan mulia, bulan suci [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=552&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bulan suci Ramadhan tinggal beberapa minggu lagi. Namun, sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk menyambut bulan mulia tersebut? Karena lancar dan suksesnya ibadah kita di bulan Ramadhan tergantung seberapa jauh kita mempersiapkan diri. Baik persiapan fisik, pikiran maupun mental, jika dipersiapkan dengan baik insya Allah kita akan melalui Ramadhan yang berkualitas.<span id="more-552"></span></p>
<p>Ramadhan adalah bulan mulia, bulan suci yang datang setiap setahun sekali. Bulan yang penuh rahmat dan dimuliakan oleh Allah swt. Bulan Ramadhan, bulan dilipatgandakan pahala dan bulan diampuninya dosa-dosa. Beribadah sunnah di bulan ini pahalanya sama dengan mengerjakan pahala ibadah wajib. Kemudian Allah juga memberikan kemuliaan berupa tiga hal yaitu 10 hari pertama adalah rahmat, 10 hari kedua adalah ampunan, dan 10 hari terakhir adalah terbebas dari api neraka. Dan dibulan ini ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan (lailatul qodar).</p>
<p><em>Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah saw -pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba- bersabda: “Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt memberikan naungan-Nya kepada kalian. Dia turunkan Rahmat-Nya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan do’a. pada bulan itu Allah swt akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah swt”. (HR Ath-Thabarani) </em>.</p>
<p>Oleh karena itu, ada baiknya kita melakukan persiapan untuk menyambut Ramadhan. Yaitu dengan memperbanyak amalan-amalan, terutama puasa sunnah agar tidak kaget nantinya sewaktu puasa sebulan di bulan Ramadhan. Tentunya puasa sunnah kita lakukan sejak bulan Rajab lalu dan juga Sya’ban ini. Dan yang perlu diingat, apakah anda memiliki hutang puasa Ramadhan dan apakah Anda sudah membayarnya? Jika belum maka segeralah membayarnya, jangan sampai telah mendekati Ramadhan anda belum membayarnya.</p>
<p>Hal penting lainnya dalam menyambut Ramadhan yaitu kesehatan fisik. Fisik harus tetap terjaga, agar tidak lemas atau bahkan sakit saat puasa Ramadhan. Jagalah kesehatan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan minum vitamin atau suplemen jika perlu.</p>
<p>Dengan mempersiapkan Ramadhan, insya Allah ibadah kita di bulan tersebut dapat kita jalani dengan sebaik-baiknya, serta meraih banyak kemuliaan. Dan yang paling penting yaitu agar kita menjadi orang yang bertakwa. Sebagaimana firman Allah swt: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah  : 183)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/552/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=552&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/11/mempersiapkan-diri-menyambut-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Doa Adalah Ibadah</title>
		<link>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/10/doa-adalah-ibadah/</link>
		<comments>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/10/doa-adalah-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 06:35:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sari</dc:creator>
				<category><![CDATA[tausiah]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[dzikir]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cahyaislam.wordpress.com/?p=549</guid>
		<description><![CDATA[Di setiap selesai sholat kita tentunya berdoa, memohon kepada Allah swt. Doa juga bisa kita panjatkan kapan saja dan dimana saja. Kita dapat merasakan kekuatan doa yang kita panjatkan, karena doa itu merupakan sumber kemuliaan sejati yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-Nya. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad saw menjelaskan bahwa doa merupakan ibadah. Nabi Muhammad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=549&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di setiap selesai sholat kita tentunya berdoa, memohon kepada Allah swt. Doa juga bisa kita panjatkan kapan saja dan dimana saja. Kita dapat merasakan kekuatan doa yang kita panjatkan, karena doa itu merupakan sumber kemuliaan sejati yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-Nya. Dalam sebuah hadits, Nabi <em>Muhammad saw</em> menjelaskan bahwa doa merupakan ibadah. Nabi Muhammad saw bersabda: “Doa itu adalah ibadah” Kemudian beliau membaca: Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (HR. Titrmidzi)<span id="more-549"></span></p>
<p>Berdoa dilakukan dengan kerendahan hati, memohon kepada Allah swt karena kita lemah di hadapan-Nya. berdoa merupakan perbuatan yang mulia. Betapapun banyaknya kebaikan seseorang bila tidak diiringi dengan kerendahan hati untuk memohon dan merasa butuh kepada Allah melalui doa, maka orang itu tidak akan memperoleh ganjaran atas segenap kebaikannya tersebut. Demikian diriwayatkan oleh istri Rasulullah <em>shollallahu ’alaih wa sallam, </em> Aisyah <em>radhiyallahu ’anha</em>.</p>
<p>Berkata Aisyah: “Ya Rasulullah, di masa jahiliyyah Ibnu Jud’an menyambung tali silaturrahim dan memberi makan kepada orang miskin. Apakah hal itu dapat memberikan manfaat bagi dirinya?” Nabi menjawab: “Semua itu tidak akan memberikan manfaat baginya karena sesungguhnya dia tidak pernah seharipun berdoa: ”Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari kiamat.” (HR Muslim)</p>
<p>Sumber kemuliaan seseorang terletak pada kerajinan dan kesungguhannya berdoa dan bermunajat kepada Allah swt. Bahkan Nabi Muhammad saw menggambarkan kegiatan berdoa sebagai perkara yang paling mulia di sisi Allah swt. Nabi Muhammad saw bersabda:”Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.” (HR Ibnu Majah).</p>
<p>Berdoa dengan hati yang sungguh-sungguh mengharapkan dikabulkannya doa oleh Allah swt merupakan salah satu syarat terkabulnya doa kita. Nabi Muhammad saw bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan di-ijabah dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan menerima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (HR Tirmidzi)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cahyaislam.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cahyaislam.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cahyaislam.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cahyaislam.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cahyaislam.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cahyaislam.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cahyaislam.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cahyaislam.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cahyaislam.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cahyaislam.wordpress.com/549/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cahyaislam.wordpress.com&blog=7484988&post=549&subd=cahyaislam&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cahyaislam.wordpress.com/2009/08/10/doa-adalah-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cad178a61cc5bf2c15547dfb2956e63c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>