cahya islam

Bahaya Syirik

Posted on: 7 Mei 2009

Syirik adalah perbuatan yang menyekutukan Allah swt, menyembah selain Allah swt, yang termasuk dalam dosa paling besar.  Allah swt tidak akan mengampuni seseorang yang menyekutukan-Nya, sebelum orang tersebut bertaubat. Bila tidak bertaubat, maka neraka lah tempat yang kekal baginya, nauzubillahiminzalik…

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika Dia disekutukan, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa’: 48)

“Sesungguhnya barangsiapa menyekutukan Allah, maka Dia telah mengharamkan baginya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka.” (QS. Al-Maidah: 72)

Syirik dibagi menjadi dua macam, yaitu syirik besar (syirik Akbar) dan syirik kecil (syirik asghar)
Syirik Besar (Syirik Akbar)

Syirik besar yaitu menyekutukan Allah swt dengan beribadah kepada selain Allah swt. misalnya saja berdo’a dan meminta sesuatu kepada kuburan atau jin. Hal ini banyak terjadi terutama dilakukan di tempat-tempat keramat seperti makam para wali dan orang-orang shaleh, yang dilakukan oleh orang-orang untuk memohon segala sesuatunya. Padahal itu adalah perbuatan sesat dan dosa besar. Yang boleh dilakukan bila mengunjungi makam para wali dan orang-orang shaleh hanyalah mendoakan arwahnya.

Bahaya syirik besar yaitu dapat menyebabkan pelakunya keluar dari agama Islam (murtad). Bila seseorang melakukannya, maka ia haruslah bertaubat kepada Allah swt. Jika ia belum bertobat hingga mati, maka ia akan kekal di neraka. Oleh karena itu, cukup hanya Allah swt lah tempat kita memohon dan beribadah kepada-Nya sebaik-baiknya.
Syirik Kecil (Syirik Asghar)

Syirik kecil yang dilakukan oleh seseorang tetap akan membuatnya berdosa meski tidak sampai menyebabkan ia menjadi murtad. Syirik kecil ada dua jenis, yaitu:

1. Syirik Dzahir (nyata)

Syirik dzahir adalah syirik yang terjadi dalam kata-kata yang terucap dan perbuatan. Misalnya saja mengucapkan sumpah atas nama selain Allah swt ataupun mengatakan/melakukan sesuatu kehendak seakan-akan kehendak itu terjadi karena perbuatan atau ucapan manusia. Sedangkan, segala sesuatu itu terjadi hanyalah atas kehendak Allah swt.

Menggunakan jimat juga termasuk syirik kecil yang dzahir. Banyak orang menggunakan jimat sebagai penolak bala’ dan penyakit. Namun jika jimat diyakini bisa menghilangkan bala’ maka hal ini sudah termasuk ke dalam syirik besar, karena telah bergantung kepada selain Allah swt.
Seseorang pernah berkata kepada Rasulullah saw, “Terserah apa yang dikehendaki oleh Allah dan engkau”. Lalu Rasulullah saw bersabda kepada orang itu: “Apakah engkau ingin menjadikan aku sebagai sekutu Allah?! Katakanlah hanya apa yang Allah kehendaki.” (Hadits Riwayat An-Nasa’i)
Allah swt juga telah berfirman: “Dan tidaklah kalian berkehendak, melainkan bila Allah menghendakinya.”  (QS. At-Takwir:29)

2. Syirik Khafiy (samar)

Yang termasuk syirik khafiy atau samar yaitu riya’ (pamer/ingin dilaht amalnya) dan sum’ah (ingin popularitas). Syirik ini terjadi apabila seseorang beribadah bukan karena Allah swt namun karena ia ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Misalnya, seseorang sholat hanya ingin dipuji oleh temannya, bersedekah hanya karena ingin disebut sebagai orang yang dermawan, membaca Al Quran dengan suara yang lantang agar disanjung oleh orang di sekitarnya.

Riya’ jika mencampuri amal, akan membatalkan amalan itu. Sebagaimana firman Allah swt:  “Maka barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia mengamalkan amal yang shalih dan jangan menyekutukan Rabbnya dengan seseorang dalam beribadah.”  (QS. Al-Kahfi:110)

Tag:

2 Tanggapan to "Bahaya Syirik"

kalau memohon kepada nabi Muhammad, atau meyakini hadis daripada al quran sirik atau tidak?

Syirik=menyekutukan, menduakan, atau membuat tandingan bagi Allah swt. Kewajiban umat muslim adalah taat kepada Allah swt dan taat kepada Rasul saw. Keduanya harus berjalan seiring sejalan. Hadist, pada dasarnya bersumber dari kalam Allah swt, baik yang berasal dari Al Quran maupun yang diturunkan secara langsung hanya ke dalam dada rasulullah saw.

Maka, meyakini hadits dan Rasulullah saw adalah satu kewajiban bagi umat muslim. Namun, lebih meyakini kepada hadits , kemudian lebih meyakini atau lebih percaya kepada hadits, bukanlah satu hal yang dibenarkan, dan dapat dikategorikan kepada syirik, karena kita telah menyekutukan firman Allah swt dengan hadits Rasulullah saw, kita lebih mengakui hadits ketimbang Al Quran.

kita juga ketahui bahwa beriman kepada Allah swt dan beriman kepada Rasul Allah merupakan salah satu poin yang terdapat di dalam rukun Iman. Dan Di dalam Al Quran kita dapat menemukan banyak sekali perintah untuk taat kepada Allah swt yang senantiasa di pasangkan dengan taat kepada Rasul-Nya. Itu artinya, kita tidak dibenarkan untuk meyakini salah satunya saja, melainkan harus seiring, tidak dapat berdiri sendiri-sendiri.

Berikut beberapa firman Allah swt yang dimaksud:
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)” (QS. Al Anfaal : 20)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Qs. Al Anfaal : 24)

“Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.’” (QS. Al A’raf : 158)

“Katakanlah: ‘Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.’” (QS. An Nur : 54)

Dari dalil-dalil di atas dapat kita ketahui dengan jelas, bahwa beriman atau yakin kepada Allah swt harus juga diiringi dengan iman atau yakin kepada Rasulullah saw, keduanya saling berikat tidak dapat dipisahkan. Maka, sekali lagi tidak dibenarkan bagi seorang muslim untuk lebih mengutamakan atau meyakini hadits ketimbang Al Quran, lebih percaya kepada Nabi ketimbang kepada Allah swt yang merupakan Rabb bagi Nabi itu sendiri dan seluruh makhluk.“…Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya…” (QS. Al Baqarah: 255)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Status YM Saya

Kategori

Renungan di Twitter

  • Sesungguhnya menyambung tali silaturahmi itu adalah kunci kelapangan rizki dan dipanjangkannya umur (HR. Bukhari, shahih) 7 years ago
  • .....dan tiada taufiq bagiku melainkan dari Allah swt.... 7 years ago
  • "Sampaikanlah walau satu ayat" 7 years ago
  • Brngsiapa mncintai krn Allah,membnci krn Allah,memberi krn Allah,& mnahan pmberian krn Allah, sngguh ía tlh rnnympurnakn imanya(HR.Abu Daud) 7 years ago
  • “Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya.” (HR. Abu Daud dan AT-Tirmizi) 7 years ago

Arsip

Mei 2009
J S M S S R K
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,873,845 hits

Laman

%d blogger menyukai ini: