cahya islam

Tauhid Islam

Posted on: 11 Mei 2009

Arti tauhid menurut bahasa yaitu menjadikan sesuatu itu hanya satu. Sedangkan tauhid menurut syar’i Islam adalah mengesakan Allah swt dengan sesuatu yang khusus bagi-Nya, baik dalam uluhiyyah-Nya, rububiyyah-Nya, asma’ dan sifat-Nya.

Tidak sempurna tauhid seseorang yang beragama Islam hingga dia bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah. Dan menurut definisi tauhid tersebut dapat diketahui bahwa tauhid dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma’ wa Shifaat. Ketiga tauhid itu dapat kita temukan dalam ayat-ayat suci Al Quran maupun hadits.

1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah adalah mengesakan Allah swt dalam penciptaan, kekuasaan dan pengaturan. Dalam ajaran Islam, tauhid ini merupakan suatu keyakinan yang pasti bahwa Allah swt satu-satunya pencipta, pemberi rizki, menghidupkan dan mematikan, serta mengatur semua urusan makhluk-makhluk-Nya tanpa ada sekutu bagi-Nya. Dalil-dalil yang menunjukkan Tauhid Rububiyyah ini diantaranya firman Allah swt:

“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah sesuatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?: (QS. Fathir:3)

”Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al Fatihah:2)

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (QS. Al Mulk:1)

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al A’raf:54)

“Katakanlah: ‘Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” (QS. Ar Ra’d:16)

“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?”. Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?”. Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al-Mukminun:84-89)

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:” Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? “Tentu mereka akan menjawab:” Allah “. (QS. Luqman:25)

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah swt dalam hal beribadah, dengan tidak menyembah sesuatu dan mendekat kepada-Nya seperti menyembah Allah swt. dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan kata lain, umat Islam beribadah dan menyembah hanya kepada Allah swt dengan penuh ketaatan dan rendah diri tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Seorang muslim yang tidak meyakini tauhid ini maka akan menjadikannya musyrik sehingga ia termasuk ke dalam golongan yang sesat. Sebagai contoh  ia melakukan ibadah kepada Allah namun juga tetap pergi ke kuburan dan menyebah penghuninya, maka ia adalah musyrik dan kafir yang abadi di dalam neraka. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maidah:72)

Oleh karena itu, beribadah kepada Allah swt dengan segala amal dan perbuatan yang diridhoi oleh Allah swt. Karena pada dasarnya ibadah kepada Allah swt itu sangat penting dengan disertai rasa cinta, takut, dan harapan kepada Allah swt. Sehingga kita beribadah lepada-Nya dengan ikhlas hanya pada Allah Allah swt semata.

Dalil-dalil yang menunjukkan Tauhid Uluhiyyah ini diantaranya firman Allah swt:

”Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al Fatihah:5)

”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah:21)

”Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Qur’n) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar:2-3)

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah:5)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al Anbiyaa:25)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut (= segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan dia ridla dengan peribadatannya tersebut).” (QS. An Nahl:36)

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Ali Imran:18)

”Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain.” (QS. Al Qashash:88)

”Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah.” (QS. Huud:101)

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil.” (QS. Luqman:30)

3. Tauhid Asma’ wa Shifat

Tauhid Asma’ wa Shifat adalah mengesakan Allah swt dengan keyakinan terhadap nama-nama Allah, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya yang termuat dalam Al Quran dan As Sunnah, tanpa merubah, menyangkal, mempertanyakan, serta menyerupai dengan makhluk-Nya. Firman Allah swt, Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al Israa:110)

Ayat lainnya yang menerangkan tentang nama-nama dan sifat Allah yaitu:

”Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaul-husna (nama-nama yang baik).” (QS. Thaha:8)

”Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy-Syuuraa:11)

Semua nama Allah adalah terbaik dan berada dalam puncak kebaikan. Karena nama Allah mengandung atau menunjukkan sifat-Nya yang sempurna, tidak ada cacat atau kekurangan dari segi apapun. Seperti Al-Hayyu (”Yang Maha Hidup”), salah satu dari nama Allah yang mengandung arti bahwa Allah hidup secara mutlak, tidak didahului oleh ketiadaan dan tidak pula berakhir dengan kebinasaan. Dia hidup dengan kesempurnaan-Nya.

Nama Allah adalah nama sekaligus sifat bagi-Nya. Al-Hayyu, Al-’Aliim, As-Samii’ yang artinya ”Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengetahui, Yang Maha Mendengar” ; semua adalah nama untuk Dzat yang satu, yaitu Allah swt. Nama-nama tersebut mengandung makna dan sifat yang berbeda-beda, karena makna  Al-Hayyu lain dengan makna Al-’Aliim dan lain pula dengan makna As-Samii’. Dan begitu pula nama-nama Allah yang lain. Nama Al-Hayyu mengandung sifat al-hayat (hidup), Al-’Aliim mengandung sifat al-’ilmu (ilmu/mengetahui), As-Samii’ mengandung sifat as-sam’u (mendengar). Dan begitu pula nama-nama Allah yang lain.

Terhadap nama-nama dan sifat Allah, kita harus menegaskan keyakinan terhadap Allah swt sifat-sifat dan nama-nama yang Dia tegaskan sendiri untuk Diri-Nya atau ditegaskan Rasul-Nya dengan penegasan yang sebenarnya tanpa mengubah, tanpa meraba-raba, tanpa mempertanyakan, dan tanpa membuat perumpamaan.
Demikianlah pembagian tauhid yang harus diimani oleh umat Islam. Seseorang tidak dikatakan beriman kalau ia tidak mengimani tiga macam tauhid di atas. Barangsiapa mengimani tauhid rububiyyah saja, maka ia belum dikatakan mukmin. Demikian juga kalau dia hanya mengimani tauhid uluhiyyah atau tauhid asma’ wa shifaat saja. Jadi, seseorang dikatakan mukmin kalau dia mengimani ketiga macam tauhid di atas.
Wallaahualam bishshawwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Status YM Saya

Kategori

Renungan di Twitter

  • Sesungguhnya menyambung tali silaturahmi itu adalah kunci kelapangan rizki dan dipanjangkannya umur (HR. Bukhari, shahih) 7 years ago
  • .....dan tiada taufiq bagiku melainkan dari Allah swt.... 7 years ago
  • "Sampaikanlah walau satu ayat" 7 years ago
  • Brngsiapa mncintai krn Allah,membnci krn Allah,memberi krn Allah,& mnahan pmberian krn Allah, sngguh ía tlh rnnympurnakn imanya(HR.Abu Daud) 7 years ago
  • “Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya.” (HR. Abu Daud dan AT-Tirmizi) 7 years ago

Arsip

Mei 2009
J S M S S R K
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,873,845 hits

Laman

%d blogger menyukai ini: