cahya islam

Nikmat Allah

Posted on: 14 Mei 2009

Mensyukuri nikmat yang diberikan Allah swt merupakan salah satu amalan mulia yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Allah swt telah memberikan kita nikmat dalam bentuk kebahagiaan, kemudahan dalam hidup, rezeki yang melimpah ruah.

Pada saat kita tertimpa musibah maupun telah terlepas dari musibah tersebut, kita harus tetap memperbanyak syukur kepada Allah swt. Allah swt mencintai umat-Nya yang selalu bersyukur dengan menambah nikmat itu lebih banyak lagi. Sebagaimana firman Allah: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7)

Terkadang kita lupa bersyukur atas apa yang telah kita dapatkan hingga hari ini. Khususnya di kala kita sedang senang, kita lupa dengan Sang Pemberi nikmat. Dan di kala kita jatuh ke dalam kesulitan, barulah kita menyadari bahwa kita kurang bersyukur pada Allah swt.

Dalam surat Ibrahim ayat 34 dan surat An-Nahl ayat 18, disebutkan bahwa nikmat Allah sangatlah banyak hingga kita tidak mampu untuk menghitungnya.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” (QS. Ibrahim:34)

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18)

Allah swt memberikan nikmat kepada setiap umat-Nya. Bahkan orang/golongan yang kita sebut sebagai fakir miskin pun wajib bersyukur karena Allah swt telah memberikan nikmat berupa kesehatan tubuh dan udara untuk bernapas.

Dalam suatu hadits, para sahabat Rasul bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, nikmat manakah yang telah kita terima? Roti gandum, itupun tidak mengenyangkan.” Maka Allah swt menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw, “Tidakkah kamu memakai pakaian? Tidakkah kamu minum air dingin? Yang demikian itu pun adalah nikmat-nikmat Allah.”

Sedangkan bagi kita yang bekerja mengais rezeki setiap harinya, bukan saja demi mendapatkan gaji setiap bulannya, namun juga dapat dikategorikan sebagai ibadah dalam memperoleh pahala dan keberkahan apabila benar-benar diniatkan karena Allah swt. Apalagi bila rezeki yang kita cari dan peroleh didapatkan dari usaha yang halal, subhanalllah…

Maka ingatlah selalu sabda Rasulullah saw yang berbunyi: “Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram maka api nerakalah yang lebih layak baginya.” (HR. At-Tarmidzi) Nauzubillahiminzalik…

Berikut ini merupakan pekerjaan yang yang dinilai sebagai ibadah menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam bukunya yang berjudul “al-Ibada fil-Islam”:

  1. Pekerjaan yang dilakukan haruslah mempunyai niat untuk mencari keridhoan Allah swt, ikhlas demi mencari rezeki yang halal.
  2. Pekerjaan tersebut tidak melanggar syariat Islam.
  3. Selama bekerja tidak menganiaya orang lain, mengambil harta/hak orang lain, menipu, mencuri, mencari keributan, dan perbuatan zhalim lainnya.
  4. Pekerjaan tersebut dilakukan dengan kesungguhan dan penuh komitmen (tanggung jawab).
  5. Dalam bekerja juga tidak melupakan ibadah yang wajib yaitu sholat dan mengeluarkan zakat.

Apabila Allah swt telah memberikan kita rezeki yang melimpah, gaji atau penghasilan yang cukup, hendaklah kita tidak menjadi lupa daratan dengan berfoya-foya dan membelanjakan uang yang kita miliki secara berlebihan. Terlebih di saat ini, dimana perekonomian sedang tidak menentu, berhemat sangatlah penting untuk dilakukan. Salah satu rasa syukur yang dapat diwujudkan yaitu dengan berbagi kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Ingatlah bahwa terdapat hak orang miskin dari setiap penghasilan yang kita dapatkan. Hal ini juga sangat mulia bila dibandingkan dengan sifat hura-hura ataupun berfoya-foya. Allah swt berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al Furqan:67)

Oleh karena itu, mulai hari ini dan seterusnya marilah kita senantiasa mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah swt, karena kita hidup di dunia pada dasarnya adalah mengharapkan berkah dan ridho Allah swt. Allah swt telah berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman:12)

Wallahualam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Status YM Saya

Kategori

Renungan di Twitter

  • Sesungguhnya menyambung tali silaturahmi itu adalah kunci kelapangan rizki dan dipanjangkannya umur (HR. Bukhari, shahih) 7 years ago
  • .....dan tiada taufiq bagiku melainkan dari Allah swt.... 7 years ago
  • "Sampaikanlah walau satu ayat" 7 years ago
  • Brngsiapa mncintai krn Allah,membnci krn Allah,memberi krn Allah,& mnahan pmberian krn Allah, sngguh ía tlh rnnympurnakn imanya(HR.Abu Daud) 7 years ago
  • “Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya.” (HR. Abu Daud dan AT-Tirmizi) 7 years ago

Arsip

Mei 2009
J S M S S R K
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Statistik Blog

  • 1,873,845 hits

Laman

%d blogger menyukai ini: