cahya islam

Nabi Muhammad saw

Posted on: 24 Juni 2009

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ :28)

Nabi Muhammad saw adalah nabi yang terakhir, sebagai Rasul Allah yang membawa kebenaran bagi seluruh umat manusia. Nabi Muhammad saw lahir di kota Mekah pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah, yaitu kira-kira tahun tahun 570 M. Ayahnya yang bernama Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal sewaktu beliau masih dalam kandungan ibunya, Aminah binti Wahab. Tahun kelahiran Nabi saw tersebut dinamakan tahun Gajah karena pada waktu itu bala tentara pimpinan Abrahah, Gubernur Yaman, menyerang Ka’bah dengan mengendarai gajah. Namun Abrahah serta pasukannya berhasil dikalahkan oleh burung-burung Ababil yang dikirim dan diperintahkan oleh Allah swt untuk menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar (QS. Al-Fiil:1-5).

Sang ibu meninggal dunia ketika Nabi Muhammad saw berusia enam tahun. Sejak itu beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Tidak lama kemudian kakeknya juga meninggal dunia, kemudian beliau dibesarkan oleh pamannya, Abu Thalib. Sejak remaja Nabi Muhammad saw memiliki kepribadian yang terpuji. Ketika diasuh pamannya, beliau ditugaskan menggembala kambing-kambing milik sang paman. Beliau mengerjakan tugasnya itu dengan sebaik-baiknya. Selain itu, beliau adalah sosok yang cerdas, rendah hati, lembut, penuh kasih sayang, dan selalu menjauhi perbuatan keji dan kotor.  Karena perkataannya yang selalu memiliki kebenaran, maka beliau diberi gelar Al Amin (orang yang dapat dipercaya).

Ketika berusia 25 tahun, Nabi Muhammad saw dipercaya oleh seorang wanita terhormat yang kaya raya bernama Khadijah binti Khuwalid, untuk menjual barang dagangannya ke Syiria. Kepribadian dan kepintaran Nabi saw membuat Khadijah terpikat kepadanya. Allah pun mentakdirkan mereka menjadi suami istri. Usia Khadijah ketika itu 40 tahun, lima belas tahun lebih tua dari Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad saw dan Khadijah dikaruniai tiga putra dan empat putri ketiga putranya, Al Qasim, Abdullah, dan Thayyib  meninggal sewaktu masih kecil. Dan empat putrinya adalah Zainab, Ruqqayah, Ummu Kaltsum, dan Fatimah.

Nabi Muhammad saw mendapatkan wahyu pertama ketika beliau berusia 40 tahun di Gua Hira, tempat dimana beliau sering menyendiri dan bertafakur. Ketika itu, malaikat Jibril dating kepadanya dan menyampaikan wahyu di telinganya. Malaikat Jibril menyuruhnya membaca namun Nabi saw tidak bisa membacanya. Jibril mengulangi tiga kali permintaannya itu namun jawabannya tetap sama.

Pada suatu malam, ketika Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira’, Malaikat Jibril mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia diminta membaca. Ia menjawab, “Saya tidak bisa membaca“. Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS. Al-Alaq:1-5).

Sejak itulah beliau menjadi seorang nabi dan mulai menyiarkan agama Islam secaran diam-diam. Orang-orang pertama yan g beriman kepadanya adalah Abu Bakar, Khadijah binti Khuwalid, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah. Beberapa waktu kemudian sahabat-sahabatnya dan kaum elit Quraisy juga memeluk Islam, diantaranya Utsman bin Affan, Zubai bin Al-Awam, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas’ud, dan Thalha bin Ubaidillah. Kurang lebih selama tiga tahun lebih Nabi Muhammad saw berdakwah secara diam-diam, sampai turunnya wahyu yang memerintahkannya untuk berdakwah secara terang-terangan, sesuai dengan perintah Allah swt: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-Hijr:94).

Namun, masyarakat Mekah yang masih jahiliyah tidak menyukai syiar Nabi Muhammad saw, mereka lebih memilih untuk menyembah berhala. Oleh karena itu, mereka melakukan penyiksaan dan penganiayaan terhadap Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Kemudian, untuk menghindari penganiayaan itu, Nabi Muhammad saw memerintahkan para pengikutnya pindah (hijrah) ke Habsyah, karena raja Habsyah, memperbolehkan orang-orang Islam berhijrah ke negaranya dan melindungi mereka dari tekanan penguasa di Mekah. Sementara itu Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabat masih berada di Mekah.
Ketika keadaan di Mekah semakin mengancam jiwa Nabi Muhammad saw, maka pada tahun 622 M beliau memutuskan untuk hijrah ke kota Yatsrib yang kemudian lebih dikenal dengan nama Madinah. Di Madinah, Nabi Muhammad saw membangun masjid bersama-sama dengan kaum  Muhajirin (sebutan bagi orang Islam yang berasal dari Mekah) dan kaum Anshor (sebutan bagi orang Islam yang berasal dari Madinah).

Pada tanggal 25 Dzul Qa’dah tahun Hijriah, Nabi Muhammad saw beserta pengikutnya yang jumlahnya telah mencapai ribuan menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya sekaligus menunaikan haji wada’.  Beberapa bulan setelah haji wada’ beliau sakit keras dan akhirnya wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal, dalam usia 63 tahun. Semasa hidupnya, Nabi Muhammad menikah dengan sekitar 11-13 wanita (terdapat perbedaan pendapat), yang kesemuanya lebih untuk menolong janda yang kesusahan. Wahyu-wahyu yang diturunkan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw telah dikumpulkan dalam kitab bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al Quran. Kebanyakan ayat-ayatnya mempunyai arti yang jelas, sedangkan sebagiannya diterjemahkan dan dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain. Sebagian ayat-ayat adapula yang diterjemahkan oleh Muhammad sendiri melalui percakapan, tindakan dan persetujuannya, yang terkenal dengan nama As-Sunnah. Hingga kini, Al Quran dan As-Sunnah menjadi panduan dan cara hidup setiap Muslim.

Wallahu a’lam

5 Tanggapan to "Nabi Muhammad saw"

Setelah melahirkan, Aminah mengirimkan berita kepada Abdul Muthalib bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki. Abdul Muthalib segera menemui dan melihat cucunya itu serta membawanya ke Ka’bah. Lalu dia berdoa dan memuji Allah SWT serta memberinya nama Muhammad. Nama tersebut cukup asing di kalangan masyarakat Arab pada waktu itu. Abdul Muthalib lalu bersenandung :

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahiku anak yang baik ini, lagi menjadi idamanku. Dia akan berada dalam buaian dengan usia mudanya. Aku akan melindunginya di Baitullah dan tiang-tiangnya, hingga aku akan melihatnya tumbuh dewasa. Dan aku akan melindunginya dari kejahatan orang-orang yang benci, dan dari kendali orang yang dengki.

makasii pak sudah melengkapi

Subhanallah Chie… postingannya menyejukkan…
Sbg Islam kita harus bangga kepada Muhammad Rasulullah SAW… wajib…. panutan…. kebanggaan…. idola… dll…. Salam kenal & Sukses ya!

alhamdulillah kalau postingannya menyejukkan > smoga ga stress lagi hehehe…
salam kenal n sukses juga bwt dedeksn.

Allahumma salli ‘ala Muhammad… Banyak suri teladan yang diajarkan Nabi SAW. Mengapa kita tidak mau mengikutinya, cuma mengaku umat Muhammad tapi prilaku dan akhlak jauh dari tuntunannya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Status YM Saya

Kategori

Renungan di Twitter

  • Sesungguhnya menyambung tali silaturahmi itu adalah kunci kelapangan rizki dan dipanjangkannya umur (HR. Bukhari, shahih) 7 years ago
  • .....dan tiada taufiq bagiku melainkan dari Allah swt.... 7 years ago
  • "Sampaikanlah walau satu ayat" 7 years ago
  • Brngsiapa mncintai krn Allah,membnci krn Allah,memberi krn Allah,& mnahan pmberian krn Allah, sngguh ía tlh rnnympurnakn imanya(HR.Abu Daud) 7 years ago
  • “Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya.” (HR. Abu Daud dan AT-Tirmizi) 7 years ago

Arsip

Juni 2009
J S M S S R K
« Mei   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Statistik Blog

  • 1,873,845 hits

Laman

%d blogger menyukai ini: